LAYAK-KAH MEMBERI GELAR AHLI BID’AH KEPADA PELAKU TAKBIRAN BERSAMA SETELAH SHALAT FARDHU DI HARI RAYA ?
-----
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
====
===
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah,
segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah ﷺ. Amma ba’du:
====****===
HUKUM TAKBIRAN PADA DUA HARI RAYA DAN HARI-HARI TASYRIQ SECARA BERJAMAAH DAN DENGAN SUARA KERAS
Sekarang ini, banyak tersebar di media, dari para syaikh dan para da’i, baik lewat lisan maupun tulisan yang memvonis “BID’AH SESAT TAKBIRAN BERJAMAAH DI HARI RAYA”, lalu menggelari para pelakunya sebagai ahli bid’ah.
----
JAWABAN-NYA : Masalah takbir secara berjamaah
termasuk dalam permasalahan khilafiyah yang masih diperbolehkan adanya
perbedaan pendapat di dalamnya. Tidak ada celaan bagi siapa pun yang mengikuti
salah satu dari dua pendapat tersebut atau yang bertaklid kepada orang yang
berfatwa dengannya—insya Allah.
Tidak sepantasnya permasalahan
semacam ini menjadi sumber perselisihan atau permusuhan di antara kaum
muslimin. Yang wajib adalah, siapa pun yang melihat kuatnya suatu pendapat
hendaknya mengamalkannya tanpa mengingkari orang yang berbeda dengannya.
Imam Syafi'i rahimahullah (wafat
204 H) dalam “al-Umm” 1/264 (Cet. Darul Fikr) berkata:
"إِذَا رَأَوْا هِلَالَ شَوَّالٍ أَحْبَبْتُ
أَنْ يُكَبِّرَ النَّاسُ جَمَاعَةً وَفُرَادَى، فِي الْمَسْجِدِ وَالْأَسْوَاقِ وَالطُّرُقِ
وَالْمَنَازِلِ، وَمُسَافِرِينَ وَمُقِيمِينَ فِي كُلِّ حَالٍ وَأَيْنَ كَانُوا، وَأَنْ
يُظْهِرُوا التَّكْبِيرَ وَلَا يَزَالُونَ يُكَبِّرُونَ حَتَّى يَغْدُوا إِلَى الْمُصَلَّى،
حَتَّى يَخْرُجَ الْإِمَامُ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ يَدَعُوا التَّكْبِيرَ، وَكَذَلِكَ
أُحِبُّ فِي لَيْلَةِ الْأَضْحَى" اهـ.
"Jika mereka melihat
hilal Syawal, aku menyukai orang-orang bertakbir, baik secara berjamaah
maupun sendirian, di masjid, pasar, jalan, dan rumah-rumah mereka, baik dalam
keadaan mukim maupun safar, dalam segala kondisi dan di mana pun mereka berada.
Hendaknya mereka menampakkan takbiran dan terus bertakbir hingga mereka berangkat
ke tempat shalat, sampai imam keluar untuk shalat, setelah itu mereka berhenti
bertakbir. Hal yang sama juga aku sukai pada malam Idul Adha."* (selesai).
Beliau juga dalam *Al-Umm* (8/124,
cet. Dar Al-Fikr) berkata:
[وَأُحِبُّ إِظْهَارَ التَّكْبِيرِ جَمَاعَةً
وَفُرَادَى فِي لَيْلَةِ الْفِطْرِ وَلَيْلَةِ النَّحْرِ مُقِيمِينَ وَسُفَرًا فِي
مَنَازِلِهِمْ وَمَسَاجِدِهِمْ وَأَسْوَاقِهِمْ] اهـ.
*"Aku menyukai
menampakkan takbiran, baik secara berjamaah maupun sendirian, pada malam Idul
Fitri dan malam Idul Adha, baik dalam keadaan mukim maupun safar, di
rumah-rumah mereka, masjid-masjid mereka, serta pasar-pasar mereka."*
Dan beliau juga berkata dalam
*Al-Umm* (1/275):
[وَيُكَبِّرُ الْحَاجُّ خَلْفَ صَلَاةِ الظُّهْرِ
مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ، إِلَى أَنْ يُصَلُّوا الصُّبْحَ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ،
ثُمَّ يَقْطَعُونَ التَّكْبِيرَ إِذَا كَبَّرُوا خَلْفَ صَلَاةِ الصُّبْحِ مِنْ آخِرِ
أَيَّامِ التَّشْرِيقِ، وَيُكَبِّرُ إِمَامُهُمْ خَلْفَ الصَّلَوَاتِ، فَيُكَبِّرُونَ
مَعًا، وَمُتَفَرِّقِينَ لَيْلًا وَنَهَارًا، وَفِي كُلِّ هَذِهِ الْأَحْوَالِ] اهـ.
*"Dan jamaah haji bertakbiran setelah
selesai shalat Zuhur pada hari Nahr (Idul Adha), hingga mereka shalat Subuh
pada hari terakhir dari hari-hari Tasyriq (Ayyaamut-Tasyriq). Kemudian mereka menghentikan
takbiran setelah selesai takbiran habis shalat Subuh pada hari terakhir Ayyaamut-Tasyriq.
Dan ketika imam mereka bertakbir
setelah shalat, maka mereka pun ikut serta bertakbir bersama-sama, baik secara
terpisah maupun bersamaan, pada siang dan malam, dalam segala keadaan
ini."*
Inilah Imam Syafi'i - yang kedudukan keilmuan-nya telah diketahui - yang secara jelas, dia menyatakan disyariatkannya takbiran hari raya dan hari-hari tasyrik secara berjamaah.
Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah
berkata - setelah menyebutkan banyak atsar dari para sahabat dan tabi’in tentang
takbir pada dua hari raya - :
"وَقَدِ اشْتَمَلَتْ هَذِهِ الْآثَارُ
عَلَى وُجُودِ التَّكْبِيرِ فِي تِلْكَ الْأَيَّامِ عَقِبَ الصَّلَوَاتِ وَغَيْرِ
ذَلِكَ مِنَ الْأَحْوَالِ .... وَظَاهِرُ اخْتِيَارِ الْبُخَارِيِّ شُمُولُ ذَلِكَ لِلْجَمِيعِ
وَالْآثَارُ الَّتِي ذَكَرَهَا تُسَاعِدُهُ".
*"Atsar-atsar ini
mencakup adanya takbir pada hari-hari tersebut setelah shalat dan dalam
berbagai keadaan lainnya... Dan tampak jelas bahwa Imam Al-Bukhari memilih
cakupan yang umum, yang didukung oleh atsar-atsar yang disebutkannya."* [Fathul
Bari 2/462].
Dengan ini, kita mengetahui bahwa
takbir secara berjamaah dengan satu suara memiliki dasar dalam sunnah.
Seandainya pun tidak ada dalil yang secara eksplisit menunjukkan hal itu, tidak
ada larangan untuk melakukannya.
Selain itu, tidak ada mudarat yang
timbul darinya, dan tidak ada seorang pun yang mengklaim bahwa berzikir dengan
satu suara lebih berpahala atau lebih dicintai Allah. Namun, ini hanyalah
praktik spontan yang terbukti dalam sunnah serta atsar para sahabat yang mulia.
Maka, tidak boleh mengingkari orang
yang melakukannya. Dan keberlanjutan amalan ini di tengah generasi umat Islam
tanpa ada pengingkaran menunjukkan bahwa hal itu memiliki dasar dalam
syariat.
Waktu takbir pada Idulfitri dimulai
dari terbenamnya matahari pada hari terakhir Ramadhan (malam Id) atau sejak
terlihatnya hilal Syawal, dan berakhir ketika shalat Id dimulai.
Dan tidak diragukan lagi bahwa
bertakbir secara berjamaah lebih menampakkan syiar-syiar Allah, lebih
diharapkan diterima, lebih membangkitkan kesadaran hati, lebih mengumpulkan
semangat, dan lebih mendorong perasaan akan maknanya. Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ»
*"Tangan
Allah bersama jamaah."*
Hadis ini diriwayatkan oleh
At-Tirmidzi dan dinyatakan hasan olehnya, serta oleh An-Nasa’i dari Ibnu Abbas
radhiyallahu 'anhuma.
Imam An-Nawawi dalam *Al-Majmu’*
(5/39, Dar Al-Fikr) dalam pembahasan tentang takbir setelah shalat fardhu pada
Idul Adha, dia mengatakan:
"يُسْتَحَبُّ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالتَّكْبِيرِ
بِلا خِلَافٍ". اهـ.
*"Dianjurkan untuk mengeraskan
suara dalam takbir tanpa ada perbedaan pendapat."*
Imam Ibnu Qudamah Al-Hanbali dalam
*Al-Mughni* (2/225, cet. Dar Hajr) berkata:
[وَيُظْهِرُونَ التَّكْبِيرَ فِي لَيَالِي الْعِيدَيْنِ،
وَهُوَ فِي الْفِطْرِ آكَدُ؛ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى : ﴿وَلِتُكْمِلُوا
الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ﴾ [البقرة: 185].
وجُملَتُهُ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلنَّاسِ
إِظْهَارُ التَّكْبِيرِ فِي لَيْلَتَيْ العِيدِ فِي مَسَاجِدِهِمْ وَمَنَازِلِهِمْ
وَطُرُقِهِمْ مُسَافِرِينَ أَوْ مُقِيمِينَ؛ لِظَاهِرِ الآيَةِ المَذْكُورَةِ] اهـ.
*"Mereka menampakkan
takbir pada malam-malam kedua hari raya, dan hal ini lebih ditekankan pada Idul
Fitri, berdasarkan firman Allah Ta’ala: 'Dan hendaklah kalian mencukupkan
bilangan (puasa Ramadan) dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang
diberikan kepada kalian, agar kalian bersyukur' (QS. Al-Baqarah: 185).”*
Kesimpulannya, disunnahkan bagi
orang-orang untuk menampakkan takbir pada malam kedua hari raya, baik di
masjid, rumah, maupun di jalan-jalan, baik dalam keadaan safar maupun menetap,
sebagaimana makna lahiriah ayat yang telah disebutkan. [Selesai].
Prof. Doktor Ali Jum'ah Muhammad
berkata :
وَقَدْ مَضَى عَمَلُ المُسْلِمِينَ سَلَفًا
وَخَلَفًا عَلَى الجَهْرِ بِالتَّكْبِيرِ فِي عِيدِ الأَضْحَى مِنْ غَيْرِ نَكِيرٍ،
وَالطَّعْنُ فِي مَشْرُوعِيَّةِ ذَلِكَ اتِّهَامٌ لِعُلَمَاءِ الأُمَّةِ بِالجَهْلِ
وَالضَّلَالِ، وَهُوَ أَمْرٌ يَنْأَى عَنْهُ كُلُّ عَاقِلٍ.
“Kaum Muslimin sejak dahulu hingga
sekarang telah menjalankan sunnah mengeraskan suara dalam takbir pada hari raya
Idul Adha tanpa ada pengingkaran. Menolak kesyari’atannya berarti menuduh para
ulama umat ini sebagai orang-orang yang bodoh dan sesat. Dan ini sesuatu yang
tidak akan dilakukan oleh orang yang berakal”. [Fatwa Dar Al-Ifta Mesir Nomor
7049.]
----
FATWA DAIROTUL IFTA AL-‘AAM – AMMAN – YORDANIA NO. 2956, menyatakan :
"رَفْعُ
الصَّوْتِ بِالتَّكْبِيرِ فِي أَيَّامِ العِيدِ مِنَ الشَّعَائِرِ الَّتِي تَمَيَّزَتْ
بِهَا الأُمَّةُ الإِسْلَامِيَّةُ عَنْ بَقِيَّةِ الأُمَمِ السَّابِقَةِ، فَالتَّكْبِيرُ
المُطْلَقُ وَالمُقَيَّدُ فِي عِيدَيِ الفِطْرِ وَالأَضْحَى - سَوَاءٌ كَانَ فَرْدِيًّا
أَمْ جَمَاعِيًّا - هُوَ سُنَّةٌ مُسْتَحَبَّةٌ، وَوَاظَبَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالصَّحَابَةُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ، وَقَدْ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: (وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى
مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ) البَقَرَةُ/185.
وَالمُنَاسِبُ لِهَذِهِ الشَّعِيرَةِ
أَنْ تَكُونَ عَلَى وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ وَمُنْتَظِمَةٍ مِنْ قِبَلِ النَّاسِ؛ لِأَنَّ
التَّكْبِيرَ الجَمَاعِيَّ أَقْوَى وَأَعْلَى صَوْتًا، وَأَوْقَعُ فِي النَّفْسِ مِنْ
أَنْ يُكَبِّرَ كُلُّ شَخْصٍ وَحْدَهُ، وَأَحْرَى أَلَّا يَقَعَ الِاضْطِرَابُ وَالتَّشْوِيشُ
بِسَبَبِ اخْتِلَافِ الأَصْوَاتِ وَتَعَارُضِهَا إِذَا لَمْ يَكُنْ بِصَوْتٍ وَاحِدٍ".
Meninggikan
suara dengan takbir pada hari-hari Id merupakan salah satu syiar yang
membedakan umat Islam dari umat-umat sebelumnya. Takbir mutlak dan takbir
muqayyad pada Idulfitri dan Iduladha—baik secara individu maupun
berjamaah—merupakan sunnah yang dianjurkan. Rasulullah ﷺ dan para sahabat
radhiyallahu 'anhum senantiasa melakukannya. Allah Ta’ala berfirman:
(وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ
وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ)
*"Dan hendaklah kamu
mencukupkan bilangan (puasa) dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang
diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."* (Al-Baqarah: 185)
Yang sesuai dengan syiar ini adalah
melakukannya dengan irama yang seragam dan teratur dari orang-orang. Sebab,
takbir secara berjamaah lebih kuat, lebih nyaring, dan lebih berkesan di dalam
jiwa daripada takbir masing-masing secara terpisah. Selain itu, hal ini juga
menghindarkan ketidakteraturan dan kebingungan akibat perbedaan serta
tumpang-tindihnya suara apabila tidak dilakukan secara serempak”.
Adapun takbir pada Iduladha, dimulai
sejak subuh hari Arafah hingga ashar pada hari terakhir tasyriq.
===
FATWA DAR
AL-IFTA MESIR NOMOR 7049.
Dari fatwa Prof.
Doktor Ali Jum'ah Muhammad.
التَّكْبِيرُ الجَمَاعِيُّ فِي العِيدَيْنِ
وَأَيَّامِ التَّشْرِيقِ عَقِبَ الصَّلَوَاتِ المَكْتُوبَاتِ مُسْتَحَبٌّ شَرْعًا،
بَلْ هُوَ مِنْ إِظْهَارِ شَعَائِرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَهُوَ دَاخِلٌ فِي عُمُومَاتِ
النُّصُوصِ القُرْآنِيَّةِ وَالأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ، وَثَبَتَ عَنِ الصَّحَابَةِ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ اسْتِحْبَابُ الجَهْرِ بِتَكْبِيرَاتِ العِيدِ، سَوَاءٌ فِي
ذَلِكَ التَّكْبِيرُ المُقَيَّدُ الَّذِي يُقَالُ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ المَكْتُوبَاتِ
أَوِ التَّكْبِيرُ المُطْلَقُ الَّذِي يَكُونُ فِي أَيَّامِ شَهْرِ ذِي الحِجَّةِ وَأَيَّامِ
التَّشْرِيقِ، وَقَدْ مَضَى عَلَيْهِ المُسْلِمُونَ سَلَفًا وَخَلَفًا مِنْ غَيْرِ
نَكِيرٍ، وَالقَوْلُ بِبِدْعِيَّتِهِ قَوْلٌ بَاطِلٌ لَا يُعَوَّلُ عَلَيْهِ.
وَنُنَبِّهُ عَلَى ضَرُورَةِ عَدَمِ جَعْلِ
مِثْلِ هَذِهِ الأُمُورِ سَبَبًا فِي الفِتَنِ وَالشِّقَاقِ بَيْنَ المُسْلِمِينَ فِي
هَذِهِ الأَيَّامِ المُبَارَكَاتِ؛ أَيَّامِ الفَرَحِ، وَكَذَلِكَ عَلَى ضَرُورَةِ
اتِّبَاعِ الأُمُورِ التَّنْظِيمِيَّةِ الصَّادِرَةِ عَنِ الجِهَاتِ المُخْتَصَّةِ
القَائِمَةِ عَلَى أَمْرِ رِعَايَةِ المَسَاجِدِ وَالإِشْرَافِ عَلَيْهَا.
Takbir secara berjamaah pada dua hari
raya dan hari-hari tasyriq setelah shalat fardhu disunnahkan secara syar'i.
Bahkan, itu termasuk dalam menampakkan syiar-syiar Allah. Hal ini termasuk
dalam keumuman dalil-dalil Al-Qur'an dan hadis-hadis Nabi. Telah diriwayatkan
dari para sahabat radhiyallahu 'anhum bahwa mereka menganjurkan mengeraskan
suara dalam takbir hari raya, baik itu takbir muqayyad yang dilakukan setelah
shalat fardhu maupun takbir muthlaq yang dilakukan pada hari-hari bulan
Dzulhijjah dan hari-hari tasyriq. Kaum Muslimin sejak dahulu hingga sekarang
telah melakukannya tanpa ada pengingkaran. Pendapat yang menyatakan bahwa hal
itu adalah bid'ah merupakan pendapat batil yang tidak dapat dijadikan
pegangan.
Kami mengingatkan akan pentingnya
untuk tidak menjadikan perkara seperti ini sebagai sebab timbulnya fitnah dan
perpecahan di antara kaum Muslimin pada hari-hari yang penuh berkah ini, yaitu
hari-hari kebahagiaan. Demikian pula, pentingnya mengikuti aturan-aturan yang
dikeluarkan oleh pihak berwenang yang mengelola dan mengawasi masjid.
Lalu Syeikh Ali Jum’ah berkata :
التَّكْبِيرُ فِي العِيدِ مَنْدُوبٌ،
وَلَمْ يَرِدْ فِي صِيغَةِ التَّكْبِيرِ وَلَا هَيْئَتِهِ شَيْءٌ بِخُصُوصِهِ فِي السُّنَّةِ
المُطَهَّرَةِ، فَالأَمْرُ فِيهِ عَلَى السَّعَةِ؛ لِأَنَّ النَّصَّ الوَارِدَ فِي
ذَلِكَ مُطْلَقٌ، وَهُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ﴾
[البَقَرَةُ: 185]، وَالمُطْلَقُ يُؤْخَذُ عَلَى إِطْلَاقِهِ حَتَّى يَأْتِيَ مَا يُقَيِّدُهُ
فِي الشَّرْعِ؛ إِذْ مِنَ البِدْعَةِ تَضْيِيقُ مَا وَسَّعَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا شَرَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
أَمْرًا عَلَى جِهَةِ الإِطْلَاقِ، وَكَانَ يَحْتَمِلُ فِي فِعْلِهِ وَكَيْفِيَّةِ
إِيقَاعِهِ أَكْثَرَ مِنْ وَجْهٍ فَإِنَّهُ يُؤْخَذُ عَلَى إِطْلَاقِهِ وَسَعَتِهِ،
وَلَا يَصِحُّ تَقْيِيدُهُ بِوَجْهٍ دُونَ وَجْهٍ إِلَّا بِدَلِيلٍ.
Takbir pada hari raya adalah sesuatu
yang dianjurkan. Tidak ada ketentuan khusus dalam sunnah yang menetapkan lafaz
atau tata cara tertentu dalam takbir. Maka, dalam hal ini terdapat keluasan,
karena dalil yang berkaitan dengannya bersifat mutlak, yaitu firman Allah
Ta'ala:
﴿وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا
هَدَاكُمْ﴾
*"Dan hendaklah kalian
mengagungkan Allah atas petunjuk yang diberikan-Nya kepada kalian."*
(Al-Baqarah: 185).
Kaidah menyatakan :
وَالمُطْلَقُ يُؤْخَذُ عَلَىٰ إِطْلَاقِهِ
حَتَّىٰ يَأْتِيَ مَا يُقَيِّدُهُ فِي الشَّرْعِ
“Suatu dalil yang bersifat
mutlak harus dipahami dalam kemutlakannya sampai ada dalil syar'i yang
membatasinya”.
Membatasi sesuatu yang telah
diluaskan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ termasuk dalam kategori
bid'ah. Jika Allah menetapkan suatu amalan secara mutlak, sementara
pelaksanaannya bisa dilakukan dengan berbagai cara, maka amalan tersebut harus
tetap dipahami dalam kemutlakannya dan tidak boleh dibatasi pada satu cara
tertentu tanpa adanya dalil.
===***===
PENDAPAT YANG MENGANGGAP TAKBIRAN BERJEMAAH ITU BID’AH :
Memang, ada sebagian ulama dari mazhab
Maliki berpendapat bahwa mengeraskan suara dalam takbir adalah bid'ah.
Namun, pendapat yang dijadikan
pegangan dalam mazhab Maliki adalah bahwa mengeraskan takbir setelah salat
fardhu secara berjamaah di masjid merupakan hal yang disunnahkan, dan
dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya membantah anggapan mereka.
Al-Allamah Ad-Dusuqi dalam *Hasyiyah
‘ala Asy-Syarh Al-Kabir* (1/399, Dar Al-Fikr) mengatakan:
[قَوْلُهُ: (لَا جَمَاعَةَ فَبِدْعَةٌ)، وَالمَوْضُوعُ
أَنَّ التَّكْبِيرَ فِي الطَّرِيقِ بِدْعَةٌ، وَأَمَّا التَّكْبِيرُ جَمَاعَةً وَهُمْ
جَالِسُونَ فِي المُصَلَّى فَهَذَا هُوَ الَّذِي اسْتُحْسِنَ، قَالَ ابْنُ نَاجِي:
افْتَرَقَ النَّاسُ بِالقَيْرَوَانِ فِرْقَتَيْنِ بِمَحْضَرِ أَبِي عِمْرَانَ الفَاسِيِّ
وَأَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ؛ فَإِذَا فَرَغَتْ إِحْدَاهُمَا مِنَ التَّكْبِيرِ
كَبَّرَتِ الأُخْرَى، فَسُئِلَا عَنْ ذٰلِكَ، فَقَالَا: إِنَّهُ لَحَسَنٌ. اهـ تَقْرِيرُ
شَيْخِنَا عَدَوِي] اهـ.
*"Perkataannya: (bukan
secara berjamaah, maka itu adalah bid'ah), yang dimaksud adalah bahwa takbir di
jalan merupakan bid'ah. Adapun takbir secara berjamaah ketika mereka duduk di
tempat salat, maka hal ini adalah sesuatu yang disunnahkan.
Ibnu Naji berkata: 'Penduduk Qairawan
terbagi menjadi dua kelompok di hadapan Abu Imran Al-Fasi dan Abu Bakar bin
Abdurrahman; ketika salah satu kelompok selesai bertakbir, kelompok lainnya
melanjutkan takbir. Lalu mereka berdua ditanya tentang hal itu, maka keduanya
berkata: ‘Ini adalah perbuatan yang baik.’"
Demikianlah yang dijelaskan oleh
Syaikh kami Al-‘Adawi."*
[Lihat : asy-Syarhul Kabiir
oleh Syeikh ad-Dardiir dan Hasyiyah ad-Dasuqi 1/399, an-Naasyie : Darul Fikr].
DALIL :
Orang-orang yang berpendapat tidak
bolehnya takbir berjamaah berdalil bahwa takbir adalah ibadah, sedangkan ibadah
itu bersifat tauqifi (harus berdasarkan dalil).
Namun, pendapat mereka dapat dibantah
dengan argumen bahwa takbir berjamaah tidak keluar dari batasan nash-nash
syariat dan tidak mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama. Sebaliknya,
takbir berjamaah hanyalah sarana untuk mengingatkan dan menampakkan syiar
Islam.
===***===
DALIL YANG MENGATAKAN :
"BOLEH NYA
TAKBIR JAMA’I (TAKBIRAN BERJEMAAH)" :
Hal ini didukung oleh beberapa dalil
berikut ini :
DALIL KE 1 :
Keumuman Dalil Takbir pada Hari Raya.
Allah Ta'ala berfirman:
﴿وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ
وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴾
*"Dan hendaklah kalian bertakbir
(mengagungkan Allah) atas petunjuk-Nya yang telah diberikan kepada kalian, agar
kalian bersyukur."* (Al-Baqarah: 185).
Ayat ini mencakup takbir dalam bentuk
apa pun, baik secara individu maupun berjamaah, selama masih dalam rangka menghidupkan
syiar.
DALIL KE 2 :
Diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyyah
radhiyallahu 'anha, ia berkata:
(كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ
الْعِيدِ، حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا، حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيَّضَ
فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ، فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ، وَيَدْعُونَ
بِدُعَائِهِمْ، يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ)
*"Kami diperintahkan
untuk keluar pada hari raya, bahkan kami mengajak gadis yang dipingit keluar
dari kamarnya, dan juga wanita haid. Mereka berdiri di belakang orang-orang,
lalu mereka bertakbir bersama takbir mereka dan berdoa bersama doa mereka,
dengan harapan mendapatkan keberkahan hari itu serta kesuciannya."* (HR.
Al-Bukhari no. 971)
DALIL KE 3 :
Imam Al-Bukhari rahimahullah
berkata:
« وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ
فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ المَسْجِدِ، فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ
أَهْلُ الأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا» وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ «يُكَبِّرُ
بِمِنًى تِلْكَ الأَيَّامَ، وَخَلْفَ الصَّلَوَاتِ وَعَلَى فِرَاشِهِ وَفِي فُسْطَاطِهِ
وَمَجْلِسِهِ، وَمَمْشَاهُ تِلْكَ الأَيَّامَ جَمِيعًا» وَكَانَتْ مَيْمُونَةُ: «تُكَبِّرُ
يَوْمَ النَّحْرِ» وَكُنَّ «النِّسَاءُ يُكَبِّرْنَ خَلْفَ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ،
وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ العَزِيزِ لَيَالِيَ التَّشْرِيقِ مَعَ الرِّجَالِ فِي المَسْجِدِ»
*"Umar radhiyallahu
'anhu bertakbir di dalam kemahnya di Mina, lalu orang-orang di masjid mendengar
takbirnya, maka mereka pun bertakbir, kemudian orang-orang di pasar ikut
bertakbir, sehingga Mina bergemuruh dengan suara takbir. Para wanita juga
bertakbir di belakang Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam-malam
tasyriq bersama kaum lelaki di masjid."* [Shahih al-Bukhori 2/20].
Dalam *Fathul Bari* 2/462 disebutkan:
وَقَوْلُهُ تَرْتَجُّ بِتَثْقِيلِ الْجِيمِ
أَيْ تَضْطَرِبُ وَتَتَحَرَّكُ وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رفع الْأَصْوَات
*"Kata ‘tergemuruh’ (تَرْتَجُّ) berarti berguncang dan bergerak, ini menunjukkan betapa suara
yang diangkat begitu ramai."*
Text hadits ini menunjukkan bahwa
takbir dilakukan secara berjamaah dengan satu suara.
DALIL KE 4 :
Telah datang riwayat dari Nabi ﷺ yang menunjukkan kebolehan mengeraskan suara dalam takbir pada
dua hari raya. Yaitu : Dari Al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:
«أَمَرَنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ أَنْ نَلْبَسَ أَجْوَدَ مَا نَجِدُ، وَأَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدِ
مَا نَجْدُ، وَأَنْ نُضَحِّيَ بِأَسْمَنِ مَا نَجِدُ، وَالْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ،
وَالْجَزُورُ عَنْ سَبْعَةٍ، وَأَنْ نُظْهِرَ التَّكْبِيرَ، وَعَلَيْنَا السَّكِينَةُ
وَالْوَقَارُ»
*"Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk mengenakan pakaian terbaik yang kami
miliki, memakai wewangian terbaik yang kami miliki, menyembelih hewan kurban
yang paling gemuk yang kami miliki—satu sapi untuk tujuh orang dan satu unta
untuk tujuh orang—serta menampakkan takbir dengan penuh ketenangan dan
wibawa."*
Hadis ini diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dalam *At-Tarikh*, Al-Hakim dalam *Al-Mustadrak*, dan Ath-Thabrani
dalam *Al-Mu’jam Al-Kabir*. Al-Hakim dalam *Al-Mustadrak* (4/256, Dar Al-Kutub
Al-Ilmiyyah - Beirut) mengatakan:
[لَوْلَا جَهَالَةُ إِسْحَاقَ بْنِ بَزْرَجَ
لَحَكَمْتُ لِلْحَدِيثِ بِالصِّحَّةِ] اهـ.
*"Seandainya bukan
karena ketidaktahuan tentang Ishaq bin Buzraj, aku akan menetapkan hadis ini
sebagai sahih."*
Namun, pernyataan ini dikritik oleh
Ibnu Al-Mulaqqin, Al-Hafiz Ibnu Hajar, dan lainnya yang menyatakan bahwa Ishaq
bin Buzraj tidaklah majhul (tidak dikenal), bahkan Ibnu Hibban menilainya
sebagai perawi yang terpercaya.
DALIL KE 5 :
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma,
disebutkan :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّىٰ اللهُ عَلَيْهِ
وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَىٰ رَافِعًا صَوْتَهُ
بِالتَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ حَتَّىٰ يَأْتِيَ الْمُصَلَّىٰ
“Bahwa Nabi ﷺ keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adha dengan mengeraskan
suara dalam tahlil dan takbir hingga beliau sampai di tempat shalat”.
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Hakim
dan Al-Baihaqi dalam bentuk marfu’ dan mauquf. Namun, Al-Baihaqi menilai
riwayat mauquf lebih sahih. Al-Hakim dalam *Al-Mustadrak* (1/437) mengatakan:
[هَذِهِ سُنَّةٌ تَدَاوَلَهَا أَئِمَّةُ أَهْلِ
الْحَدِيثِ، وَصَحَّتْ بِهِ الرِّوَايَةُ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ وَغَيْرِهِ
مِنَ الصَّحَابَةِ] اهـ.
*"Ini adalah sunnah yang diwarisi
oleh para imam ahli hadis dan diriwayatkan secara sahih dari Abdullah bin Umar
dan selainnya dari kalangan sahabat."*
DALIL KE 6 :
Telah diriwayatkan dari para sahabat
radhiyallahu 'anhum bahwa mereka menganjurkan mengeraskan suara dalam takbir
hari raya, baik itu takbir muqayyad yang dilakukan setelah shalat fardhu maupun
takbir muthlaq yang dimulai sejak terlihatnya hilal Dzulhijjah hingga akhir
hari-hari tasyriq.
Dalam *Shahih Al-Bukhari* disebutkan :
أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ
يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنَىٰ، فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ،
وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّىٰ تَرْتَجَّ مِنىٰ تَكْبِيرًا.
“Bahwa Umar radhiyallahu 'anhu
bertakbir di tendanya di Mina, lalu orang-orang di masjid mendengarnya dan ikut
bertakbir, kemudian penduduk pasar pun ikut bertakbir hingga seluruh Mina
bergema dengan takbir”.
Hal ini merupakan dalil jelas tentang
disyariatkannya mengeraskan suara dalam takbir, bahkan menunjukkan bahwa takbir
dilakukan secara berjamaah, sebab bergemanya suara di Mina tidak akan terjadi
kecuali dengan takbir yang dilakukan bersama-sama.
Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam *Fath
Al-Bari* (2/462, Dar Al-Ma’rifah) mengatakan:
[وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رَفْعِ الْأَصْوَاتِ]
اهـ.
*"Ini merupakan bentuk penekanan
dalam menyatukan suara-suara takbir secara berjemaah."*
Hal yang sama juga disampaikan oleh
Al-Hafiz Al-‘Aini dan Asy-Syaukani dalam *Nail Al-Autar*.
Lebih jelas lagi dalam riwayat
Al-Baihaqi dalam *As-Sunan Al-Kubra* (3/312):
[فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ السُّوقِ فَيُكَبِّرُونَ؛
حَتَّىٰ تَرْتَجَّ مِنىٰ تَكْبِيرًا وَاحِدًا] اهـ
*"Lalu penduduk pasar
mendengarnya dan mereka pun ikut bertakbir hingga seluruh Mina bergema dan
bergemuruh dengan satu suara takbir."*
DALIL KE 7 :
Dalam *Shahih Al-Bukhari* (2/20, Dar
Tauq An-Najah) secara mu’allaq disebutkan:
[أَنَّ ابْنَ عُمَرَ وَأَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَا يَخْرُجَانِ إِلَىٰ السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ،
وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا] اهـ
*"Bahwa Ibnu Umar dan Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhuma keluar ke pasar pada hari-hari sepuluh
Dzulhijjah, lalu mereka bertakbir dan orang-orang pun bertakbir mengikuti
takbir mereka."*
Ini adalah dalil yang sangat jelas
tentang takbir berjamaah.
Atsar yang diriwayatkan secara
mu’allaq oleh Al-Bukhari ini telah disambungkan sanadnya oleh Al-Fakihi dalam
*Akhbar Makkah* (3/9-10, Cet. Dar Khidr) dengan lafaz:
"فَيُكَبِّرَانِ فَيُكَبِّرُ النَّاسُ مَعَهُمَا
لَا يَأْتِيَانِ السُّوقَ إِلَّا لِذَلِكَ".
*"Mereka berdua bertakbir, lalu
orang-orang ikut bertakbir bersama mereka berdua. Mereka berdua tidak pergi ke
pasar kecuali untuk bertakbir."*
DALIL KE 8 :
Ibnu Abi Syaibah dalam *Al-Mushannaf*
(3/667, Maktabah Ar-Rushd - Riyadh) meriwayatkan :
[عَنْ مِسْكِينٍ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ
مُجَاهِدًا، وَكَبَّرَ رَجُلٌ أَيَّامَ الْعَشْرِ، فَقَالَ مُجَاهِدٌ: "أَفَلَا
رَفَعَ صَوْتَهُ، فَلَقَدْ أَدْرَكْتُهُمْ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُكَبِّرُ فِي الْمَسْجِدِ،
فَيَرْتَجُّ بِهَا أَهْلُ الْمَسْجِدِ، ثُمَّ يَخْرُجُ الصَّوْتُ إِلَىٰ أَهْلِ الْوَادِي
حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْأَبْطَحَ، فَيَرْتَجُّ بِهَا أَهْلُ الْأَبْطَحِ، وَإِنَّمَا أَصْلُهَا
مِنْ رَجُلٍ وَاحِدٍ"] اهـ.
“Dari Miskin Abu Hurairah, ia
berkata: Aku mendengar Mujahid berkata, lalu seseorang bertakbir pada hari-hari
sepuluh Dzulhijjah.
Mujahid pun berkata: *"Mengapa
ia tidak mengeraskan suaranya? Aku telah menjumpai mereka (para sahabat), dan
sungguh pernah ada seseorang bertakbir di masjid, lalu semua orang-orang yang
di masjid pun ikut serta menggemakan takbir bersama takbirnya. Kemudian suara
takbir itu terdengar oleh para penduduk lembah hingga mencapai Al-Abthoh, lalu
penduduk Al-Abthoh pun menggemakan takbir bersama takbir-nya. Padahal awalnya
hanya berasal dari satu orang."*
DALIL KE 9 :
Imam Malik dalam *Al-Muwaththa’*
(1/404) dalam :
بَابِ
تَكْبِيرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ
“Bab : Takbir
pada Hari-Hari Tasyriq”
Dia meriwayatkan:
[عَنْ يَحْيَىٰ بْنِ سَعِيدٍ أَنَّهُ بَلَغَهُ
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ الْغَدَ مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ
حِينَ ارْتَفَعَ النَّهَارُ شَيْئًا فَكَبَّرَ، فَكَبَّرَ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِ،
ثُمَّ خَرَجَ الثَّانِيَةَ مِنْ يَوْمِهِ ذَلِكَ بَعْدَ ارْتِفَاعِ النَّهَارِ فَكَبَّرَ،
فَكَبَّرَ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِ، ثُمَّ خَرَجَ الثَّالِثَةَ حِينَ زَاغَتِ الشَّمْسُ
فَكَبَّرَ، فَكَبَّرَ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِ، حَتَّىٰ يَتَّصِلَ التَّكْبِيرُ] اهـ.
*"Dari Yahya bin Sa’id, ia
mendapat kabar :
Bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu
'anhu keluar pada pagi hari setelah hari Nahr (Idul Adha), ketika matahari
telah meninggi sedikit, lalu ia bertakbir. Maka orang-orang pun ikut bertakbir
dengan takbirnya.
Kemudian ia keluar kedua kalinya pada
hari yang sama setelah matahari agak tinggi, lalu ia bertakbir, maka
orang-orang pun ikut bertakbir dengan takbirnya.
Kemudian ia keluar ketiga kalinya
ketika matahari telah condong ke barat, lalu ia bertakbir, maka orang-orang pun
ikut bertakbir hingga suara takbir saling bersambung."*
Lalu Imam Malik berkata:
[الأَمْرُ عِنْدَنَا: أَنَّ التَّكْبِيرَ فِي
أَيَّامِ التَّشْرِيقِ دُبُرَ الصَّلَوَاتِ، وَأَوَّلُ ذَلِكَ تَكْبِيرُ الإِمَامِ
وَالنَّاسِ مَعَهُ دُبُرَ صَلَاةِ الظُّهْرِ مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ، وَآخِرُ ذَلِكَ
تَكْبِيرُ الإِمَامِ وَالنَّاسِ مَعَهُ دُبُرَ صَلَاةِ الصُّبْحِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ
التَّشْرِيقِ] اهـ.
*"Pendapat yang kami anut adalah
bahwa takbir pada hari-hari tasyriq dilakukan setelah shalat. Awal takbir
dimulai dengan takbir imam dan orang-orang setelah shalat Zuhur pada hari Nahr,
dan terakhir adalah takbir imam dan orang-orang setelah shalat Subuh pada akhir
hari-hari tasyriq."*
Imam Al-Baji Al-Maliki dalam kitabnya
*Al-Muntaqa Syarh Al-Muwaththa'* (3/42, cet. Maktabah As-Sa'adah) berkata:
[(وَقَوْلُهُ: دُبُرَ الصَّلَوَاتِ) يُرِيدُ الصَّلَوَاتِ
الْخَمْسَ، رَوَاهُ عَلِيُّ بْنُ زِيَادٍ عَنْ مَالِكٍ فِي "الْمُدَوَّنَةِ"،
دُونَ النَّوَافِلِ، خِلَافًا لِبَعْضِ التَّابِعِينَ؛ لِأَنَّ فِي تَخْصِيصِ هَذِهِ
الصَّلَوَاتِ بِذَلِكَ تَعْظِيمًا لَهَا؛ وَلِأَنَّهُ ذِكْرٌ وَاجِبٌ فَوَجَبَ أَنْ
يَخْتَصَّ مِنَ الصَّلَوَاتِ بِالْوَاجِبِ مِنْهَا.. وَرَوَى عَلِيُّ بْنُ زِيَادٍ
عَنْ مَالِكٍ فِي "الْمَجْمُوعَةِ": وَنَحْنُ نَسْتَحْسِنُ فِي التَّكْبِيرِ
ثَلَاثًا، فَمَنْ زَادَ أَوْ نَقَصَ فَلَا حَرَجَ، وَرَوَى ابْنُ الْقَاسِمِ وَأَشْهَبُ
أَنَّهُ لَمْ يَحُدَّ فِيهِ ثَلَاثًا] اهـ.
*"Dan ucapannya:
'setelah shalat' yang dimaksud adalah shalat lima waktu. Hal ini diriwayatkan
oleh Ali bin Ziyad dari Malik dalam *Al-Mudawwanah*, tanpa mencakup shalat
sunnah, berbeda dengan sebagian tabi'in; karena mengkhususkan shalat-shalat ini
dengan takbir menunjukkan pengagungan terhadapnya. Selain itu, karena takbir
ini adalah zikir yang wajib, maka wajib pula dikhususkan hanya pada shalat yang
wajib...
Ali bin Ziyad meriwayatkan dari Malik
dalam *Al-Majmu'ah*: 'Kami menganggap baik bertakbir sebanyak tiga kali, tetapi
siapa pun yang menambah atau mengurangi, maka tidak mengapa.'
Ibnu Al-Qasim dan Asyhab meriwayatkan
bahwa Imam Malik tidak menentukan batasan tiga kali dalam takbir."*
DALIL KE 10 :
Tradisi dan Kebiasan Umat Islam. Takbir
berjamaah telah diamalkan selama berabad-abad di berbagai negeri Muslim, dan
tidak diketahui adanya penolakan keras dari generasi salaf terhadapnya. Hal ini
menunjukkan bahwa takbir berjamaah diperbolehkan.
===****===
TARJIH DAN PENDAPAT YANG LEBIH KUAT :
Berdasarkan dalil-dalil diatas, maka takbir
secara berjamaah setelah salat fardhu adalah sunnah secara syar’i. Bahkan, itu
termasuk bentuk menampakkan syiar-syiar Allah ﷻ.
Ia juga termasuk dalam keumuman
dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi ﷺ.
Kaum Muslimin dari generasi terdahulu
hingga sekarang telah menjalankannya tanpa ada pengingkaran.
Takbir berjamaah pada hari raya
diperbolehkan menurut banyak ulama, dan tidak ada dalil sahih dan tegas yang
melarangnya. Bahkan, terdapat beberapa atsar yang secara implisit menunjukkan
kebolehannya.
Takbir berjamaah juga termasuk dalam
keumuman menampakkan kegembiraan dan syiar agama, selama tidak dilakukan dengan
suara yang berlebihan atau dalam bentuk yang tidak pantas.
Maka, pendapat yang menyatakan bahwa
hal ini adalah bid'ah sesat adalah pendapat batil yang tidak dapat dijadikan
pegangan.
Wallahu a’lam.
0 Komentar